Rabu, 24 November 2010

video gunung merapi erupsi

»»  read more

Selasa, 23 November 2010

Wikinomics untuk Keadilan Sosial

KITA sedang memasuki suatu era tatanan kehidupan berpartisipasi ekonomi melalui suatu cara baru, tidak seperti sebelumnya.Hal ini karena terjadi perubahan besar dalam teknologi, lingkup bisnis, persekutuan ekonomi, lingkungan, dan aneka dimensi kehidupan di seantero dunia.
Partisipasi dalam ekonomi melalui cara baru ini memiliki bentuk yang khas, sebab ada kemajuan jaringan kerja sosial dan ekonomi berbentuk kolaborasi yang mengubah bagaimana barang dan jasa dikelola, dialokasikan, diproduksi, dipasarkan, maupun didistribusikan dalam basis lokal maupun global.
Perubahan ini memberikan peluang bagi setiap pelaku ekonomi, baik perusahaan maupun perorangan, untuk membangun kolaborasi yang memacu aliansi guna memanfaatkan secara tajam collective capability secara timbal balik seraya memacu sinergi yang berdaya guna. Don Tapscott dan Anthony D Williams dalam Wikinomics (2006) mengatakan, di masa lampau, kolaborasi dilakukan dalam skala yang belum meluas. Hal ini terjadi dalam hubungan pertemanan, perkumpulan antaranggota keluarga, persaudaraan komunitas, dan solidaritas antarpekerja.
Secara perlahan, kolaborasi mulai menyentuh skala yang lebih luas, sebab ada solidaritas atau ikatan kerja sama yang meluas dalam lingkup kontrak sosial untuk tolong-menolong, berbagi rezeki, dan risiko. Tapscott dan Williams mengatakan pula, saat kini telah terjadi aneka perubahan. Perkembangan akses teknologi informasi memudahkan orang untuk membangun kolaborasi, menciptakan nilai,dan berbagi kesempatan dalam dinamika tantangan yang membaru.
Hal ini memberi ruang gerak yang lebih luas kepada orang untuk ikut serta menciptakan inovasi dan aset dalam aneka sektor ekonomi.Bahkan,berjutajuta orang membangun kekuatan dalam suatu kolaborasi yang menghasilkan aneka barang dan jasa baru yang dinamis.Model inovasi dengan nilai baru menghasilkan produk yang membaru sebab aneka kolaborasi secara terbuka mampu menciptakan aneka produk yang bermakna dan memiliki nilai ekonomis tinggi.
Sebagai contoh dapat dilihat dari produksi yang dihasilkan oleh kolaborasi antara perusahaan dan rumah tangga. Bisnis kapas, kain, pakaian, sepatu, tas, mainan anak-anak, makanan suplemen, komputer, dan IT, kian menunjukkan kolaborasi dan sinergi yang bernilai. Berbarengan dengan riak bisnis di tingkat global yang tidak pernah terjadi sebelumnya, orang memiliki kekuatan dan kesempatan untuk membangun jaringan guna memacu suatu proses di bidang ekonomi untuk memelihara pasar domestik yang dirugikan oleh globalisasi di luar batas kepantasan.
Kini orang membagi pengetahuan, menghitung kekuatan, dan aneka sumber daya lain untuk menciptakan barang dan jasa di mana setiap orang dapat menggunakannya atau memodifikasinya. Yang dibutuhkan orang adalah komputer, koneksi jaringan, dan pijar-pijar inisiatif dan kreativitas untuk masuk dalam ekonomi. Kolaborasi baru ini tidak hanya akan melayani kepentingan komersial, tetapi juga membantu masyarakat melakukan aneka kegiatan untuk kepentingan publik, seperti mencegah penyakit, memperkirakan perubahan iklim global dalam menghadapi bencana alam, gempa bumi, tanah longsor, banjir, maupun upaya menemukan planet dan bintang baru.
Peneliti di Olson Laboratory menggunakan sebuah superkomputer untuk meneliti sebuah virus berbahaya yang kemudian dikenal sebagai virus HIV/AIDS. Wikinomics memacu asumsi terdalam tentang dinamika bisnis. Berdasarkan proyek riset bernilai USD9 juta yang dipimpin Don Tapscott, Wikinomics menunjukkan bagaimana rakyat dapat berpartisipasi dalam ekonomi yang menantang, tidak seperti sebelumnya. Misalnya, mereka membuat berita-berita televisi, memperindah musik favorit mereka,mendesain software, menemukan resep untuk mencegah dan mengobati aneka penyakit, mengedit naskah, menginventarisasi kosmetik-kosmetik baru, dan bahkan membuat sepeda motor.
Wikinomics akan semakin berproses dalam lingkup bisnis di abad ke-21 ini dan akan terus mengalir laksana air di sungai. Kini, tak satu pun perusahaan dapat berinovasi secara cepat atau dapat bertumbuh menjadi besar dari dirinya sendiri. Wikinomics mengungkap suatu tahap historis di masa datang—seni dan ilmu kolaborasi— di mana para pelaku ekonomi lebih bersikap terbuka kepada dunia usaha untuk memunculkan kerja sama dalam rangka memacu collective capability yang lebih bernilai daripada sebelumnya, seraya memacu good governance yang kian dipercayai semua pihak yang terlibat.
Wikinomics menunjukkan suatu perubahan yang besar dalam kolaborasi sampai saat ini. Kecuali itu, mengungkapkan sesuatu yang esensial bagi mereka yang ingin memahami suatu kekuatan dahsyat yang akan mengubah kinerja para pelaku ekonomi dan menunjukkan jalan keluar yang akan mereka tempuh untuk memecahkan masalah dalam lingkup solusi yang elegan. Wikinomics menjelaskan tentang kebenaran yang dicari di pasar di seantero dunia tentang alokasi ekonomi yang tidak menimbulkan kesenjangan—seperti yang terjadi selama ini. Bahkan, di sana-sini Wikinomics mau dipacu supaya tercapai optimum pareto alias ”di sini senang di sana senang” dan tidak terjadi eksploitasi. Juga memperjelas aneka bentuk kolaborasi bisnis dan memberikan strategi baru yang powerful bagi para pemimpin bisnis di dunia, yakni para pelanggan, karyawan, dan produsen memacu sinergi biaya untuk kepentingan timbal balik yang bernilai, serentak menghilangkan penghisapan satu terhadap yang lain.
Tapscott dan Williams menyebut ”how mass collaboration change everything.”Hal ini berangkat dari pengalaman mereka di Hawai, tempat perusahaan-perusahaan dan koperasi-koperasi yang memacu jaringan kerja sama timbalbalik selalu menghasilkan nilai lebih. Dalam pandangan mereka, perlu dimunculkan budaya kolaborasi yang bernilai yang dilihat dari beberapa sudut atau aspek, seperti kualitas sharing dan kualitas kolaborasi dari para pelaku ekonomi yang selama ini bekerja secara sendiri-sendiri.Kecuali itu, perlu ada kokreasi (co-creation) dari masyarakat yang bekerja sama. Juga perlu ada partisipasi yang berarti, baik melalui cara-cara lama maupun cara-cara baru.
MenurutTapscott dan Williams, kekuatan ekonomi rakyat sebenarnya bergantung pada beberapa aspek tersebut, bagaimana menggerakkan gotong-royong,efisiensi, sinergi serta aspek-aspek positif lainnya. Hal ini tidak terlampau berbeda dengan apa yang dikatakan Bung Hatta tentang filosofi sapu lidi, bersatu untuk menghasilkan inovasi. Ekonomi kerakyatan merupakan contoh bagaimana kolaborasi dan jaringan sosial meningkatkan produktivitas dan nilai tambah.
Wikinomics berkaitan erat dengan pengembangan ekonomi rakyat yang menghendaki adanya alokasi ekonomi yang sebaik-baiknya, seadil-adilnya, dihindarkannya eksploitasi dan pemerasan melalui keanekaragaman,serta adanya peningkatan produktivitas baik secara sosial maupun ekonomi yang bergerak menuju kesejahteraan bersama. Berkaitan dengan ini, pendekatan-pendekatan dari bawah dan pengakuan kepada kemajemukan pelaku-pelaku ekonomi harus dihargai secara bernilai.Wikinomics menyatukan keanekaragaman dengan mengakui perbedaannya. Diusahakan pula suatu proses sharing dan keterbukaan akses yang transparan dan berkeadilan.
Wikinomics terutama memacu apa yang dinamakan NMC (new mass collaboration) yang menghasilkan nilai tambah yang terus-menerus karena ada proses sharing, pain sharing, profit sharing, cost sharing dalam lingkup kokreasi yang dialogial yang bermanfaat timbal-balik bagi para pelaku ekonomi yang melakukan kerja sama, seraya memperbaiki mutu kerja sama antarmereka secara berkelanjutan. Juga menghilangkan kesenjangan, distorsi, dan pemerasan ekonomi di antara para pelaku ekonomi yang berkolaborasi.(*)
»»  read more

Kearifan Lokal Masyarakat Adat dalam Pemanfaatan Tumbuhan Obat

Indonesia sebagai salah satu negara tropis terbesar di dunia dikaruniakan potensi sumberdaya alam yang luar biasa kaya, melimpah, dan beranekaragam. Kekayaan alam tersebut diperlengkap dengan hadirnya kearifan lokal masyarakat yang tidak kalah beranekaragam, seperti halnya keanekaragaman hayati yang terkandung di alam Indonesia. Kolaborasi antara keanekaragaman hayati dan keanekaragaman kearifan lokal masyarakatnya menghasilkan suatu potensi kekayaan yang tidak ternilai. Salah satu kolaborasi yang tercipta adalah kearifan lokal masyarakat adat dalam memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan obat yang ada.
Kearifan lokal masyarakat, terutama masyarakat adat, dalam memanfaatkan tumbuhan obat merupakan warisan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi penerusnya dan telah berlangsung dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Kearifan lokal ini bermula dari hasil uji coba masyarakat (trial and error) terhadap tumbuhan-tumbuhan yang ada disekitar tempat hidup mereka untuk memenuhi kebutuhan akan pengobatan. Kearifan lokal masyarakat tersebut akhirnya terkristalisasi menjadi suatu menjadi pegangan bagi mereka dalam memenuhi kebutuhan akan pengobatan.
Zuhud (2008) menyebutkan bahwa hingga tahun 2001 setidaknya terdapat 2039 spesies tumbuhan obat yang berasal dari hutan tropika Indonesia telah berhasil didata. Keberadaan hutan menjadi sangat penting dikarenakan proses pembentukan yang sangat lama dan  panjang dan juga hasil interaksi sosio-budaya masyarakat lokal disekitar dengan hutan menjadikan setiap tipe ekosistem hutan merupakan pabrik alami bagi keanekaragaman hayati tumbuhan obat (Zuhud 2008). Berdasarkan famili-nya, tumbuhan obat di Indonesia sedikitnya 2039 tumbuhan obat yang telah terdeteksi terbagi ke dalam 203 famili dengan famili yang memiliki spesies tumbuhan obat paling banyak adalah Fabaceae (110 spesies). Tumbuhan obat di Indonesia juga tersebar dalam 7 formasi hutan, yaitu: hutan hujan tropika dataran rendah, hutan musim, hutan savana, hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa, dan hutan hujan tropika pegunungan. Dari ketujuh formasi hutan tersebut, hutan hujan tropika dataran rendah merupakan hutan dengan jumlah spesies tumbuhan obat terbanyak, yaitu 772 dari 2039 spesies (37,88%).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat masih cenderung mempertahankan untuk menggunakan tumbuhan obat untuk memenuhi kebutuhan obat mereka. Inama (2008) menyebutkan bahwa suku Marind Sendawi Anim di TN Wasur menggunakan 125 spesies tumbuhan berkhasiat obat. Hasil penelitian di tempat lain, masyarakat di sekitar Hutan Lindung Gunung Limut, Kalimantan Timur, menggunakan 91 spesies tumbuhan berkhasiat obat (Nurhayati 2006), di TN Bali Barat sebanyak 59 spesies tumbuhan obat (Arafah 2005), di masyarakat Dayak Meratus, Kalimantan Selatan, sebanyak 95 spesies tumbuhan obat (Kartikawati 2004), di masyarakat lokal suku Muna, Sulawesi Utara, sebanyak 61 spesies tumbuhan obat (Windandri 2006), di masyarakat Talang Mamak, TN Bukit Tigapuluh, Riau, sebanyak 78 spesies tumbuhan obat (Setyowati dan Wardah 2007). Hasil penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan-bahan obat alami masih menjadi pilihan bagi masyarakat adat. Selain itu, hasil penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat adat dalam memanfaatkan bahan-bahan dari alam tersebar merata di seluruh Indonesia.
Akan tetapi, patut disadari pula bahwa arus informasi dan modernisasi yang kian pesat berkembang dapat menjadi faktor utama penyebab hilang dan tererosinya kearifan lokal masyarakat adat (Windandri 2006; Setyowati dan Wardah 2007). Selain erosi pada tingkat kearifan lokal masyarakat adat, perhatian juga patut diberikan pada faktor tumbuhan obat yang terancam  keletariannya. Zuhud et al. (1994) mengidentifikasikan sedikitnya terdapat 6 faktor yang mengancam kelestarian tumbuhan obat dari hutan tropika, yaitu:
  1. Sebagian besar bahan baku obat tradisional berasal dari tumbuhan yang dipanen secara langsung dari alam/hutan secara besar-besaran. Hasil pemanenan dari usaha budidaya belum dapat mengimbangi pemanenan dari alam.
  2. Kerusakan habitat akibat: eksploitasi hutan (pembalakan), perambahan hutan, perladangan berpindah, penebangan liar, kegiatan eksploitasi barang tambang, pembukaan jalan, dan lain-lain.
  3. Konversi hutan menjadi lahan non-hutan.
  4. Eksploitasi hasil hutan kayu yang merupakan spesies pohon komersial, dimana spesies kayu komersial tersebut juga merupakan spesies tumbuhan obat.
  5. Kurangnya perhatian terhadap pembudidayaan.
  6. Tererosinya budaya dan pengetahuan tradisional dari penduduk lokal yang berdiam di dalam atau di sekitar hutan.
DAFTAR PUSTAKA
(Nurhayati 2006), (Arafah 2005), (Kartikawati 2004), (Inama 2008)  *belum di koreksi ulang lagi, nanti akan saya edit, mohon maaf.
Setyowati FM, Wardah. 2007. Keanekaragaman Tumbuhan Obat Masyarakat Talang Mamak di Sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Riau. Biodiversitas 8 (3) : 228-232.
Windadri FI, Rahayu M, Uji T, Rustiami H. 2006. Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Bahan Obat oleh Masyarakat Lokal Suku Muna di Kecamatan Wakarumba, Kabupaten Muna, Sulawesi Utara. Biodiversitas 7 (4) : 333-339.
Zuhud EAM, Ekarelawan, Riswan S. 1994. Hutan Tropika Indonesia Sebagai Sumber Keanekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan Obat, dalam Zuhud EAM, Haryanto (editor). Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia. Bogor: Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB dan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN)
Zuhud EAM. 2008. Potensi Hutan Tropika Indonesia Sebagai Penyangga Bahan Obat Alam Untuk Kesehatan Bangsa. http://www.iwf.or.id/ Potensihutanobat.pdf.  [14 Oktober 2009]
»»  read more

zorpia

Edit Event
Dear Noor,
Say hello to new Zorpians from JaKaRta BaRaT
 

Recent Post

Pendukung

Powered By Blogger

Iklan

Status Rank

Iklan